Dia tetap
cantik menawan seperti biasanya. Mataku nyaris tak lepas darinya sepanjang sore
ini di Coffee Drip. Luna yang menawan, Luna yang seksi, Luna yang setiap bagian
dari dirinya selalu merasuk hingga ke mimpi. “Mau pesan dulu?” tanya dia.
“Boleh,” aku mengangguk sambil mengalihkan mata darinya. Sebab jika tidak, dia
akan menangkap basah aku sedang menatapnya lekat. Melihat rambut halusnya yang
sedikit kemerahan, wajahnya yang berkulit bersih seperti bintang film, dan
lengan jenjangnya yang hadir sempurna karena sore ini dia memakai atasan yang
nyaris tak berlengan. Waiter dipanggil, dan kami segera saja asyik merenungi
buku menu. Perutku menginginkan chicken cordone atau salmon steak, namun otakku
tak bisa teralih dari Luna. Apa pun, aku harus menikmati momen ini detik demi
detik. Bagi seorang outsider di kampus sepertiku, bisa ketemuan berdua saja
dengan mahasiswi sepopuler Luna adalah suatu anugerah besar. Dan meski
urusannya sekadar permintaan tolong untuk menjadi webmaster laman resminya,
kuanggap ini tetap sebagai sebuah kencan. Sebab kapan lagi hal seperti ini akan
terulang? Kami cukup sering ketemu di kampus. Namun agak berat membayangkan dia
akan membuka hidupnya untuk cowok sepertiku—yang kalau di film-film remaja
Hollywood pasti dicitrakan sebagai para nerd atau computer geek berkacamata
tebal. Padahal aku tak berkacamata. “Mau langsung ngobolin website atau makan
dulu?” tanya Luna kemudian. “Makan dulu aja.” “Oke.” Luna menyahut singkat,
lalu sibuk dengan ponselnya. Aku mengalihkan mata ke arah lain, tepat ketika
seorang waitress cantik melangkah kemari sambil membawakan minuman pesananku
dan Luna. Dan aku sempat heran karena gelas yang diletakkan di meja menimbulkan
bunyi seperti ledakan keras. Lalu ada jeritan-jeritan, suara ledakan lain, juga
gelas pecah, dan hampir semua pengunjung kedai bangkit berdiri penuh rasa ingin
tahu. Aku ikut berdiri, menoleh ke arah yang ditatap semua orang. Dan baru
sepersekian detik sesudahnya aku menyadari bahwa ada hal lain yang terjadi di
luar sana. Dari jendela lebar kafe terlihat situasi tak seperti biasanya.
Orang-orang di trotoar jalan berlarian sambil memekik dan menjerit. Dan ada
suara ledakan lagi. Bukan ledakan tepatnya, melainkan letusan—beberapa kali
saling susul. Kemudian terlihat olehku sosok beberapa pria berbusana serba
hitam dan bertopeng menembakkan senjata api ke banyak arah. Atas, samping,
depan—seperti asal menembak. Napasku tertahan di dada seiring para pengunjung
kafe yang mulai kacau dan berteriak-teriak ketakutan. Teroris? Aku mulai
menghitung. Ada lima orang, setidaknya yang bisa terlihat dari sini. Dua di
antaranya memisahkan diri. Kutatap sesaat pintu depan kafe, tempat beberapa
pria hendak berlari keluar. Otakku bekerja cepat. Dua laki-laki bersenjata api
laras panjang itu bisa saja menuju kemari. Akankah terjadi tindak penyanderaan?
Lalu kuamati Luna. Ia pun mulai panik, mirip yang lainnya. Jelas ia sedang tak
ingat bahwa ada aku bersamanya. Cepat, tanpa suara, aku ambil tas punggungku,
lalu melesat ke arah toilet. Persis seperti kata-kata Janitra dulu, selalu bawa
baju seragam dan perlengkapan di mana pun berada. Meski kemungkinannya sangat
kecil, tetap akan selalu ada kejadian di mana sedikit aksi diperlukan. Seperti
saat ini. Aku berganti baju dan memakai perlengkapan tepat ketika dari ruang
depan kafe terdengar teriakan-teriakan ancaman bernada gahar yang ditingkah
jeritan lain lagi. Dugaanku betul. Ada penyanderaan! *** sesaat tertatap olehku
bayanganku di cermin toilet. Sekilas penampilanku mirip ninja. Seragam tempur
ketat dan kedok berwarna serba gelap. Bedanya, punyaku bukan biru gelap (ninja
berseragam biru gelap, bukan hitam pekat seperti di film-film Hollywood!),
melainkan merah tua. Di jidat topengku, terpasang sulaman lambang matahari
emas. Di punggung tersandang senjata utamaku, berupa sebatang tongkat pendek
berujung runcing. Dan di sekitar pergelangan di sarung tangan serta ikat
pinggang adalah aneka macam senjata bidik berukuran kecil yang kadang aku
sendiri susah mengingatnya. Detik-detik seperti ini, aku selalu teringat semua
rangkaian pelatihanku selama satu dekade di Pulau Tak Bernama, oleh Janitra.
Dia menculikku saat aku masih berumur lima tahun, melatihku spartan dalam
bidang ilmu apa saja—termasuk bela diri dan penggunaan senjata—untuk sesatu
yang ia sebut Jalan Akhir pada masa depan. Entah apa pula itu. Dan demi menuju
hari penentuan itu, aku harus melatih semua kemampuanku dalam mengabisi siapa
saja yang menjadi musuh bagiku. Bukan, bukan semacam “menegakkan keadilan dan
kebenaran” seperti jargon komik atau cerita silat picisan. Tapi siapapun. Bisa
orang jahat. Bisa pula orang baik-baik. Asal tengah berlawanan posisi denganku.
Barangkali, kalau yang kuhadapi adalah geng teroris seperti sekarang ini,
bolehlah motto agung itu pas diterapkan padaku. Lalu kuletakkan telapak tangan
di lantai toilet. Kata Janitra, kekuatan ini dinamai Nurus Bumi—menembus ke
dalam tanah—sehingga sanggup “melihat” dunia sekitar dalam radius 30 meter
lewat vibrasi energi yang diterima Bumi. Dan setelah 10 tahun melatihnya, plus
aksi-aksiku di luaran sepanjang dua tahun ini, aku sudah menguasainya dengan
brilian. Cepat sekali aku melihat dengan pikiranku apa yang terjadi di ruangan
utama kafe. Para teroris berjumlah empat orang, semua bersenjata laras panjang.
Mereka menyandera semua yang ada di kafe—pasti hendak menuntut uang tebusan
atau tuntutan lain pada aparat berwenang, dengan keselamatan para sandera
sebagai taruhannya. Dua berada di sekitar meja barista. Satu di tengah. Satu
lagi menjaga pintu. Dan orang kedua tepat berada di dekat mejaku bersama Luna
tadi. Astaga, Luna! Apakah dia baik-baik saja? Satu nama itu membuatku nyaris
kalap. Secepat kilat aku keluar lalu menjebol pintu ruang utama kafe. Bunyi
gaduh membuat semua menoleh kaget, termasuk para teroris. Keterkejutan yang
hanya beberapa milidetik sudah cukup bagiku untuk melakukan sesuatu. Aku
melesat sebat menuju orang pertama dan kedua. Adrenalin tumpah membantu fokus
dan akurasi gerakanku. Saat mereka baru akan berteriak mengancam dan saling
mengingatkan, dengkulku sudah bersarang telak di dada pria itu, meretakkan
empat batang tulang rusuknya. Laras senapan Kalashnikov yang hendak diarahkan
ke kepalaku, kupuntir dengan telunjuk dan jari tengah, menuju ke kawannya. Dan
sudut tangan yang juga ikut terpuntir, membuat telunjuknya terjepit dan tak
sengaja menekan pelatuk senapan, persis seperti yang kurencanakan. Terdengar
letusan menggelegar dan jeritan para perempuan. Timah panas melesat menghunjam
mata kaki pelaku kedua, membuat orang itu tumbang. Lalu aku berputar di udara.
Satu putaran sudah cukup melayangkan tendanganku menghajar dua kepala
sekaligus. Di akhir putaran, tepat saat aku mendarat kembali di lantai kafe,
aku melepas senjata-senjata bidik berukuran kecil dari pinggang. Empat bilah
melesat ke arah pria yang tengah berjaga di pintu, melesak ke urat-urat
tertentu di lengan dan tungkainya. Tak akan membunuhnya. Cukup untuk membuatnya
lumpuh hingga pisau-pisau itu dilepas di meja operasi (ya, pisau-pisau itu
didesain Janitra sedemikian rupa hingga tak bisa begitu saja dicabut kecuali
dengan pembedahan). Ia melengking seperti perempuan. Jatuh berdebum keras
dengan kepala tiba terlebih dulu. Sekarang tinggal pria terakhir. Dan persis
seperti dugaan terburukku, saat aku hendak mengurusnya, tangan kirinya persis
terulur ke arah Luna—hendak membuat gadisku itu sebagai tameng hidup! Nyaris
refleks, tinju kananku menghentak ke depan, mengirim pukulan jarak jauh untuk
meledakkan udara guna membuat jarak antara Luna dan pria itu. Terdengar bunyi
“Brepb!” keras, kafe sedikit bergetar seperti ada gempa, lalu Luna terdorong
jatuh ke belakang. Tanganku satunya lagi mencabut tongkat. Dengan itu, aku
bergeser maju dan menggebuk lima kali. Sabetan pertama mematahkan laras senapan
teroris itu. Patah sempurna, mirip pisau membelah keju. Yang kedua dan ketiga
meretakkan tulang lengannya. Yang keempat dan kelima membuat sendi dengkulnya
copot dan bergeser. Dan saat pria itu melolong dengan tubuh merosot turun
seperti sayuran, aku meluncur tepat untuk mencegah Luna ambruk tanpa kendali ke
lantai. Tangan kananku berhasil menahan punggungnya—30 senti dari benturan
dengan ubin kafe. Dan posisi kami sedemikian rupa sehingga kemudian wajah kami
tepat berhadapan. Mataku tepat ke matanya. Aku bahkan bisa merasakan dengusan
napas kaget dan takutnya membelai mukaku yang berlapis topeng. Sesaat waktu
seperti mati. Mata saling padang dalam jarak dekat sambil setengah
berpelukan—mirip adegan sinetron! Aku baru terbangun oleh sebuah suara teriakan
keras. “Di luar masih ada empat lagi!” Kudorong halus Luna agar berdiri tegak
lagi, sebelum aku melesat ke depan menjebol pintu. *** Aku pura-pura terhuyung
saat dibimbing petugas polisi berseragam kaos “TURN BACK CRIME” itu. Dan Luna
menyambutku dengan lega. “Ya ampun, Fandy! Kamu baik-baik saja? Kamu tadi
ngilang ke mana?” “Saudara Fandy kami temukan di gudang belakang,” petugas
reserse berkumis tipis itu menjelaskan. “Agaknya para pelaku memukulnya sampai
pingsan lalu mengurungnya di sana. Istirahat dulu di sini ya. Anda berdua nanti
boleh pulang sesudah memberikan keterangan pada petugas.” Luna mengangguk. “Ya,
Pak. Baik. Terima kasih.” Reserse itu meninggalkan kami, ikut sibuk dengan
rekan-rekannya melakukan olah TKP dan menanyai para mantan sandera. Dan aku
meneruskan aktingku dengan duduk kepayahan sambil memegangi jidatku. “A-ada
apa? Apa yang terjadi barusan?” tanyaku pelan. “Kita baru saja disandera. Ada
serangan teroris kayak di Thamrin dulu itu!” sahut Luna cepat, lalu menatap ke
arah lain. “Tuh breaking news-nya!” Aku mengikuti arah mata Luna. Tampak Daniar
Achri tengah menyampaikan laporan breaking news di Kompas TV dengan wajah
tegang. “...Ini bukan penampakan aksi pertama dari sosok misterius berbaju
serba merah itu. Sebelumnya, sosok ini tertangkap kamera video amatir pada
peristiwa kebakaran permukiman warga di Marunda dan saat menghalau aksi ormas
anarkis yang berusaha menghentikan acara diskusi buku di kampus ITB Bandung.
Berikut kembali kami tayangkan rekaman video amatir yang menangkap aksinya saat
menggagalkan aksi teror di kafe Coffee Drip beberapa waktu yang lalu...” Layar berganti
menayangkan gambar buram nyaris tak jelas hasil rekaman dengan kamera ponsel.
Di sana, lewat ambilan long shot yang di-zoom in, tampak sesosok pria berbaju
dan berkedok merah tua tengah menghajar beberapa pria berbaju serba hitam di
depan pintu sebuah bangunan, yang tak lain adalah kafe ini. Aku pura-pura
melongo. “Masya Allah! Siapa itu?” “Superhero. Superhero dunia nyata. Tadi dia
ada di sini, menyelamatkanku! Dan kami sempat sebentar saling lihat. Tahu
tidak? Kayaknya dia menyukaiku...!” Aku meneguk ludah. Mata Luna masih menatap
layar televisi, sambil mengulas senyum yang seperti tak mau usai. “...Hingga
saat berita ini kami turunkan, kami masih mencoba meminta keterangan kepada
pihak kepolisian, mengenai siapa jati diri pria misterius yang telah
menggagalkan aksi teror tersebut.” Aku menatap lekat wajah Daniar Achri di
televisi. Kalau mau tahu, namaku Elang. Yah, setidaknya, itu nama baru yang
diberikan Janitra dulu di Pulau Tak Bernama. Tapi tentu saja itu tak mungkin.
Tak akan terjadi. Sekali identitasku terbongkar, Janitra sendiri yang akan
turun tangan menjatuhkan hukuman mati padaku. Lalu kurenungi wajah ayu Luna,
yang masih juga terpancang di layar—mengharap rekaman video itu diputar
kembali. Napas terhela dalam-dalam. Tatapan mata memang tak pernah berbohong.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar