Pada suatu hari, pagi hari, ia ke rumah yang megah. “Permisi…” sapanya seraya mengetuk pintu. Ada yang buka. Yang membukakan ibu-ibu berhijab dan masih umur 36 tahun. “Oya, nak! nih dia kuenya” ujar ibu itu seraya memberi bakul berisi kue. Memang ibu itu iba dengan Dhiyyah. Kebetulan ibu itu penjual kue, jadi ia menyuruh Dhiyyah jual kuenya dan dikasih upah. “Makasih, bu Leilitha!” kata Dhiyyah seraya menerima bakulnya. Namanya Leilitha. Kadang disapa Itha.
“Eh, anak gelandangan! Ngapain, sih masih aja kerja disini, loe?! Loe kan miskin, gembel, nggak pantas hidup loe tuh, nggak jaman sekarang orang gembel jualan! lebih baik mati aja loe!!” suara bentakan dari gadis rumah didatangi Dhiyyah. Gadis sebaya Dhiyyah yang kulitnya putih, cantik, rambutnya hitam legam dan panjang, dan imut. Itu anak Bu Leilitha. “Hushh!!! Farsya, nggak boleh bilangin Dhiyyah begitu, kamu, nih!!! anak kurang ajar!!!” bentka bu Leilitha seraya memukul mulut anak yang bernama Farsya sangat keras. Itu anak bu Leilitha. Farsya masuk ke rumah dengan menangis. Ia anak manja, centil, dan merendahkan orang miskin.
Dhiyyah melihat kakek itu sudah siuman. “Kakek, Kakek tak papa?” tanya Dhiyyah seraya menghampiri kakek itu. “Tak papa, kok, makasih, nak telah menolong kakek!” ungkap kakek itu. “Oya namaku Shaqueena Mardhiyyah! biasa dipanggil Dhiyyah,” ujar Dhiyyah. “Saya Djono! panggil saya kek Djono,” kata kakek itu yang bernama kakek Djono. “Kamu tinggal di mana?” tanya sang kakek. “Tenda! di dalam hutan tapi ndak dalam kali,” kata Dhiyyah. “Orangtuamu mana?” tanya Kek Djono. “Orangtua saya kecelakaaan,” jawab Dhiyyah. “Sanak saudaramu?” tanya kakek lagi. Dhiyyah menceritakan kisah hidupnya.
Kakek Djono mengambil kantung dari kain yang diikat tali dari kantung celananya. “Ini, nak! itu untukmu, tanamlah di perkarangan rumah! Ingat, ia tidak boleh disiram! cukup satu hari seminggu disiram dengan pasir segenggam tangan, cukup jika mau satu pohon, tanam 2 biji saja,” jelas kakek Djono. Dhiyyah berterima kasih. Dhiyyah pamit, lalu ke rumah bu Leilitha dan memberi upah lima puluh ribu, ia pulang.
Sesampai di tenda, ia menyimpan uangnya dicelengan ia buat sendiri dari kardus bekas. Ia merogoh kantung dari kakek yang ia selamatkan dari kecelakaan. Ia membuka talinya. Isinya 100 biji seukuran ketumbar tapi berkilau mirip berlian. Ia pun menanam 50 pohon. 50 lainnya ia simpan. Ia setiap hari menyiramnya dengan tanah. Tanah paling subur yang ia cari. Ia rawat sudah 6 bulan. Esoknya, ia bangun pukul 5. Ia wudhu di sungai yang tak jauh dari tendanya, lalu sholat subuh. Usai sholat dan mengaji, ia merapikannya kembali. Kebetulan hari ini libur kerja. Karena, bu Leilitha dan keluarganya ke luar kota. Ia segera mandi di sungai, lalu memakai pakaian yang layak. Rencananya, ia ingin menjenguk pohonnya yang agak jauh dari tenda Dhiyyah. Alangkah terkejutnya Dhiyyah pohonnya ada berliannya, daunnya dari emas murni, pohonnya ditumbuhi satu persatu koin emas. Ia mencabut 1 pohon saja. Ia menanan lagi 50 Biji lagi.
Akhirnya, sekarang rumah Dhiyyah semegah rumah Bu Leilitha. Bu Leilitha senang melihat Dhiyyah mampu. Farsya kaget mendengarnya. Ia tetap memusuhi Dhiyyah karena sekarang Dhiyyah lebih kaya dari Farsya. Dhiyyah kuliah di Universitas paling top di Indonesia. Ia menjadi anak paling terpintar di Universitasnya. Ia mengambil jurusan Dokter spesalis hewan. Ini cita-cita Dhiyyah waktu masih Sd. Ia menjadi dokter hewan terbaik di Indonesia. Ia juga menikahi seorang pria dermawan, kaya, soleh, dan baik hati. Ia bos di Pt ternama di tanah air. Mereka dikaruniai anak kembar 2 pasang. Hidup Dhiyyah menjadi baik berkat hatinya yang menolong manusia yang sudah renta. Setiap doa dan sholat, ia berdoa berterima kasih pada Allah SWT. dan Kakek Djono yang sekarang belum diketahui keberadaannya.
Cerpen Karangan: Alyaniza Nur Adelawina
0 komentar:
Posting Komentar