—
“Bu… bu… cepetan dong!! lelet banget sih.” kataku kesal pada seorang pelayan kampus paruh baya.
“Iya, sabar mbak. Ini.” kata pelayan itu sembari memberikan jus alpukat pesananku dan Leo.
Karena terlalu buru-buru dan gugup, pelayan itu menumpahkan jus alpukat itu dan…
“Dasar bodoh, lo sengaja ya? lihat nih baju gue jadi basah. Lo harus ganti. Baju gue mahal tahu..” kataku penuh emosi. “Maafkan saya, mbak.. saya sungguh tidak sengaja..” ucap pelayan itu lirih.
Pelayan itu sangat ketakutan dan bingung harus berbuat apa. “Udah dong, Vio.. dia kan sudah minta maaf.. lagian kan itu nggak sengaja..” kata Leo membenarkan.
Tanpa menggubris apa yang dikatakan oleh Leo, dengan sengaja aku mendorong pelayan tua itu kemudian pergi ke kamar kecil. “Dasar pelayan ceroboh!” aku terus saja menghardiknya sembari mengeringkan bajuku di depan cermin.
Tiba-tiba saja seluruh kulitku memerah dan di bagian bawah hidungku terasa gatal sekali, sehingga aku menggaruknya hingga memerah. Setelah cukup lama aku menggaruk tiba-tiba saja di bagian bawah hidungku tumbuh kumis yang cukup panjang. Kemudian disusul kedua telingaku yang berubah menjadi aneh, kulit berbulu dan anehnya tumbuh ekor.. What! Ekor?
“Apa ini?” aku sungguh terkejut.
“Si..si..Siluman kucing!!!” teriak seorang wanita yang terkejut karena melihat wujudku yang aneh.
Aku mencoba menjelaskan sesuatu kepadanya, namun aku tak bisa berkata apa-apa, hanya satu kata. “Meong…” ya, aku hanya bisa mengeong seperti kucing. Cukup lama aku mengurung diri di kamar kecil kampusku. Aku takut, aku panik seperti anak kucing yang kehilangan induknya. Tiba-tiba saja seseorang mengetuk pintu kamar kecil itu. Ya, itu Leo. “Vio! lo lama banget sih di dalem?” teriak Leo dari luar.
Aku semakin panik. Cepat-cepat aku menutupi semua perubahan aneh ini. Aku menutupi tubuhku yang berbulu dengan jaket yang sengaja aku ikat di pinggang. Sedangkan telingaku, aku menutupinya dengan topi kupluk dari jaket. Sehingga yang tersisa saat itu hanya ekor, karena aku menutup kumisku dengan kedua telapak tanganku. Dengan perlahan aku membuka pintu dan menemui Leo. “Vio.., lo kenapa? lo sakit?” tanya Leo sambil membolak-balikkan telapak tangannya tepat di dahiku. Aku takut jika Leo melihat perubahan ini, oleh karenanya aku lari pergi meninggalkannya.
—
Dengan sekuat tenaga, ku kayuhkan kaki mungilku cepat untuk sampai di rumah. Jarak rumahku dari kampus kurang lebih 2 kilometer. Cukup jauh bukan? Akhirnya dengan napas terengah-engah aku sampai di depan gerbang rumahku. Di sana ada pembantuku, namanya mbok Rondo. Melihat aku di depan gerbang, cepat-cepat ia membukakan pintu gerbang itu untukku.
“Aduh.. Non Vio, kok cepat sekali pulangnya?” tanya Mbok Rondo heran.
“Meong…” kataku.
Haduh aku lupa. Aku hanya bisa mengeong. Cepat-cepat aku masuk kamar. Setelah sampai di kamar, sesegera mungkin aku melepas jaketku dan merebahkan tubuhku di kasur kesayanganku. Dan kemudian tertidur. Di dalam tidurku aku bermimpi didatangi seekor kucing. Kusing tesebut meninggalkan pesan untukku. “Meong.. meong..” (Jangan sakiti kami!!) Mendengar perkataannya itu aku mengingat sesuatu.
—
“Dasar kucing jelek. Sana pergi!” ucapku sangat kasar pada kucing itu kemudian menendangnya.
—
Dan di sampingku ada mama, papa, mbok rondo, serta Dokter pribadi keluarga kami.
“Syukurlah sayang, akhirnya kamu sadar juga” ucap mamaku.
“Memangnya apa yang terjadi, Ma?” tanyaku setengah sadar.
“Sudah 2 hari kamu koma.” jelas Dokter.
“Apa?” aku setengah tekejut.
Aku sangat beruntung kutukan Itu tidak nyata, aku hanya bemimpi. Sejak saat itu aku tidak lagi berkata-kata kasar pada siapa pun. Bahkan aku mempunyai niat untuk merawat seekor kucing. Padahal mamaku sangat mengetahui sifatku. Ya, aku sangat benci dengan kucing. Sampai suatu saat mamaku menanyakan. “Mengapa sifatku berubah drastis?” lalu aku jawab, “Aku bermimpi dikutuk oleh kucing menjadi siluman kucing.”
The End
Cerpen Karangan: Dewi Sulistyowati
0 komentar:
Posting Komentar